Produser film dalam mayoritas Muslim Indonesia telah menentang kecaman ulama, mereka mengatakan akan tetap berpegang pada rencana mereka mendatangkan bintang porno Jepang untuk bertindak dalam komedi lokal.
Para pemimpin Muslim mengecam rencana mereka untuk mendatangkan Megabintang film erotis berusia 23 tahun Maria Ozawa, yang dikenal sebagai Miyabi, untuk memerankan dirinya dalam film Menculik Miyabi (Penculikan Miyabi).
Tapi Manajer Maxima Productions Adi Sudiadi mengatakan perusahaan itu akan tetap pada rencananya untuk memasukkan Ozawa dalam film, yang bercerita tentang sekelompok mahasiswa yang tidak sengaja menculik bintang.
"Kami menjamin bahwa Miyabi tidak akan bermain film porno di sini, kami membawanya ke sini bukan sebagai bintang porno tapi murni untuk sebuah film komedi," kata Sudiadi.
"Miyabi dikenal oleh orang Indonesia ... kita mengharapkan Miyabi akan menarik banyak perhatian penonton di sini.
"Kami juga berusaha memperbaiki citra Miyabi dengan menunjukkan ia dapat bermain lebih dari sekadar bintang porno," katanya, seraya menambahkan bahwa belum ada kesepakatan akhir yang telah dibuat dengan Ozawa untuk skenario dalam film.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan menilai Ozawa yang telah memperoleh ketenaran di Jepang berkat industri pornografi dan terus berkembang ke Kanada tampak sebagai ancaman bagi kesehatan moral generasi muda.
"Walaupun film ini tidak porno,tetap sangat berbahaya bagi generasi muda kita, terutama jika mereka menjadi penggemar aktris porno ini dan penasaran untuk menonton film-film lainnya," katanya.
"Kita harus tegas dan tidak membiarkan sampah masuk ke negara kita. Ini penting untuk reputasi Indonesia sebagai negara Islam yang paling padat penduduknya di dunia," katanya.
Hampir 90 persen warga Indonesia 234 juta orang penduduknya adalah Muslim. Kebanyakan mempraktikkan bentuk hukum agama.
Senin, 19 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar